Kremah Air (Alternanthera philoxeroides)
Keywords:
Kremah Air, Bayam Dompo, Alternanthera Philoxeroides, Habitat Alternanthera Philoxeroides, Morfologi Alternanthera PhiloxeroidesAbstract
Kremah air atau bayam dempo merupakan tumbuhan yang memiliki kemampuan tumbuh sangat baik pada lingkungan basah, lembap, hingga kawasan yang tergenang air. Tanaman ini sering muncul di tepi sungai, kanal, rawa, parit, dan lahan pertanian yang mendapat banyak pasokan air. Sekilas, bentuknya terlihat seperti tanaman hijau biasa yang tumbuh menjalar. Namun, kemampuan tumbuhnya yang sangat cepat membuat tanaman ini memiliki karakter yang berbeda dari banyak jenis tanaman air lainnya. Batangnya mampu menjalar panjang, membentuk hamparan rapat di permukaan air, dan menghasilkan akar baru pada setiap ruas batang. Karakter tersebut membuat tanaman ini mudah memperluas wilayah tumbuh hanya dari potongan batang kecil.
Nama ilmiah tanaman ini adalah Alternanthera philoxeroides (Mart.) Griseb., sedangkan sejumlah literatur juga mencatat beberapa nama sinonim, seperti Achyranthes philoxeroides (Mart.) Standley, Bucholzia philoxeroides Mart., dan Telanthera philoxeroides (Mart.) Moq. Tanaman ini termasuk keluarga Amaranthaceae, satu keluarga dengan berbagai jenis tumbuhan yang memiliki bentuk dan karakter cukup beragam. Di berbagai negara, masyarakat mengenalnya dengan nama umum seperti alligator grass, alligator weed, alligatorweed, mukuna-menna, pannankarni, dan pig weed. Di Indonesia, penyebutan “kremah air” dapat membuat orang mengira tanaman ini sama dengan kremah yang biasa tumbuh di daratan atau digunakan sebagai sayuran. Padahal, identifikasi spesies tetap membutuhkan perhatian pada bentuk batang, daun, bunga, dan terutama kebiasaan tumbuhnya.
Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, termasuk wilayah Guyana Prancis, Guyana, Suriname, Venezuela, Brasil, Bolivia, Peru, Paraguay, Uruguay, hingga Argentina bagian utara. Seiring waktu, tanaman tersebut menyebar ke berbagai kawasan tropis dan subtropis di dunia. Asia juga mengenalnya sebagai tanaman yang mampu beradaptasi dengan lingkungan basah, termasuk Indonesia, India, Sri Lanka, Tiongkok, Taiwan, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Papua Nugini. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat masyarakat perlu mengenali tanaman ini dengan baik, terutama ketika menemukannya di saluran air atau lahan pertanian.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhamad Imam Ngasim (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
How to Cite
Similar Articles
- Muhamad Imam Ngasim, Kremah (Alternanthera Sessilis) Si Gulma Penambah Stamina , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 2 No. 9 (2026): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Klasifikasi Habitus Tumbuhan Berdasarkan Morfologi , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Mengapa Curah Hujan Tinggi Meningkatkan Risiko Penyakit Jamur pada Tanaman Hortikultura? , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Febiola Nadya Ayu Adinda, Pertanian Terapung (Floating Agriculture) Bangladesh sebagai Strategi Ketahanan Pangan dan Resiliensi Iklim di Lahan Rawa Indonesia , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 2 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Oktober 2026 Diprediksi Lebih Kering di Sejumlah Wilayah, Apa Dampaknya bagi Pertanian Indonesia? , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 2 No. 9 (2026): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Klasifikasi Habitus Tumbuhan Tropis Indonesia , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Rumah Tani Indonesia, AGRINOW Vol.1 No.1 - Fitopatologi : Ilmu, Sejarah, dan Peran Pentingnya dalam Pertanian Modern , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Batang Tanaman Cabai Berkayu atau Tidak? , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Prediksi Musim Hujan Indonesia 2026/2027 Awal Lebih Lambat, Puncak Desember hingga Februari , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 2 No. 9 (2026): AGRINOW! : Buletin Pertanian
You may also start an advanced similarity search for this article.


