Prediksi Musim Hujan Indonesia 2026/2027 Awal Lebih Lambat, Puncak Desember hingga Februari
Keywords:
Musim Hujan, El Niño, Prediksi BMKG, Cuaca Indonesia, IOD Positif, Musim Hujan IndonesiaAbstract
Memasuki penghujung 2026, masyarakat Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan pola cuaca yang cukup berbeda dari kondisi normal. Berdasarkan analisis klimatologis dan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal Musim Hujan periode 2026/2027 secara umum diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan dinamika atmosfer dan laut dalam skala regional hingga global, terutama pengaruh El Niño, Indian Ocean Dipole (IOD), serta perubahan sirkulasi monsun Asia-Australia.
BMKG memprediksi awal musim hujan mengalami kemunduran pada 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia. Artinya, sebagian besar masyarakat di berbagai daerah perlu menghadapi periode kering yang berlangsung lebih panjang sebelum hujan mulai turun secara konsisten. Meski demikian, keterlambatan tersebut tidak otomatis berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem. BMKG juga memperkirakan sekitar 69,76 persen wilayah daratan akan menerima curah hujan dengan sifat normal.
Pola tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara waktu datangnya hujan dan jumlah curah hujan yang turun. Awal musim yang terlambat tidak selalu berarti total hujan selama satu tahun akan rendah. Sebaliknya, hujan dapat datang lebih singkat tetapi membawa intensitas tinggi pada periode tertentu. Karena itu, informasi mengenai prediksi musim menjadi penting bagi sektor pertanian, pengelolaan air, kesehatan, transportasi, hingga kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhamad Imam Ngasim (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
How to Cite
Similar Articles
- Muhamad Imam Ngasim, Oktober 2026 Diprediksi Lebih Kering di Sejumlah Wilayah, Apa Dampaknya bagi Pertanian Indonesia? , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 2 No. 9 (2026): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Strategi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Ternak di Musim Hujan , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 2 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Febiola Nadya Ayu Adinda, Pertanian Terapung (Floating Agriculture) Bangladesh sebagai Strategi Ketahanan Pangan dan Resiliensi Iklim di Lahan Rawa Indonesia , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 2 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Strategi Pengendalian Simultan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) dan Penyakit Blas (Pyricularia oryzae) pada Ekosistem Padi Sawah Musim Basah , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 2 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Mengapa Curah Hujan Tinggi Meningkatkan Risiko Penyakit Jamur pada Tanaman Hortikultura? , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Klasifikasi Habitus Tumbuhan Tropis Indonesia , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Mengenal Klasifikasi Bentuk Kehidupan Tumbuhan Menurut Raunkiaer , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Kremah Air (Alternanthera philoxeroides) , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 2 No. 9 (2026): AGRINOW! : Buletin Pertanian
- Muhamad Imam Ngasim, Rumah Tani Indonesia, AGRINOW Vol.1 No.1 - Fitopatologi : Ilmu, Sejarah, dan Peran Pentingnya dalam Pertanian Modern , AGRINOW! : Buletin Pertanian: Vol. 1 No. 1 (2025): AGRINOW! : Buletin Pertanian
You may also start an advanced similarity search for this article.


